JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara mengumumkan persiapan peletakan batu pertama untuk sejumlah proyek hilirisasi. Langkah ini menjadi bagian dari upaya percepatan pengembangan industri strategis nasional pada Februari 2026.
Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menyebut enam proyek akan memasuki tahap groundbreaking bulan depan. Proyek-proyek ini mencakup pengembangan bauksit, aluminium di Balikpapan, bioavtur, hingga kilang pengolahan atau refinery.
“Selain itu, ada budidaya unggas di lima lokasi,” kata Rosan, Rabu, 14 Januari 2026. Hal ini menunjukkan bahwa proyek Danantara tidak hanya fokus pada sektor energi dan mineral, tetapi juga pangan strategis.
Rencana percepatan proyek hilirisasi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Presiden sebelumnya menggelar rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di Hambalang, Jawa Barat, Minggu, 11 Januari 2026, membahas perkembangan penghiliran nasional.
Nilai Investasi dan Target Groundbreaking
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menyampaikan pemerintah menargetkan peletakan batu pertama enam proyek baru pada awal Februari 2026. Total nilai investasi dari proyek-proyek tersebut diperkirakan mencapai US$6 miliar atau setara Rp100 triliun.
Danantara menjadi penggerak utama dalam proyek-proyek strategis ini. Lembaga pengelola investasi ini dipimpin Rosan Perkasa Roeslani yang juga menjabat Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM.
Di Mempawah, Kalimantan Barat, Danantara akan membangun smelter alumina dengan nilai investasi US$2,4 miliar. Proyek ini akan dilengkapi fasilitas produksi alumina grade smelter (SGA) dari bauksit senilai US$890 juta.
Kedua proyek tersebut diarahkan untuk memperkuat penguasaan rantai nilai aluminium dari hulu hingga hilir. Dengan begitu, Indonesia mampu meningkatkan nilai tambah dari sumber daya mineral domestik.
Di Jawa Tengah, tepatnya di Kilang Cilacap, Danantara mengembangkan fasilitas produksi bioavtur senilai US$1,1 miliar. Proyek ini mendukung transisi energi sekaligus pengembangan industri penerbangan berkelanjutan di tanah air.
Selain bioavtur, Danantara juga mengembangkan fasilitas bioetanol senilai US$80 juta. Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi berbasis biomassa.
Di sektor pangan, Danantara tengah membangun lima dari total 12 fasilitas budidaya unggas. Pengembangan ini diharapkan mendukung ketersediaan protein hewani sekaligus memperkuat rantai nilai industri peternakan domestik.
Selain itu, Danantara juga mengembangkan proyek hilirisasi kelapa terintegrasi di Morowali dengan nilai investasi US$100 juta. Proyek ini telah berjalan dan diharapkan meningkatkan nilai tambah produk pertanian lokal.
Teknologi dan Inovasi di Proyek Hilirisasi
Proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) juga masuk dalam rencana groundbreaking bulan depan. Rosan menekankan aspek teknologi proyek DME masih dalam tahap analisis internal oleh Chief Technology Officer, Sigit Puji Santosa.
“Kalau teknologinya dianalisa oleh CTO kami, Pak Sigit. Jadi kami baru membahas ini hari ini,” ujar Rosan. Hal ini menunjukkan Danantara menempatkan inovasi dan efisiensi teknologi sebagai bagian penting dalam proyek strategis.
Pengembangan teknologi ini sejalan dengan strategi hilirisasi nasional yang ingin mendorong produksi dalam negeri. Dengan adanya teknologi canggih, proyek-proyek ini diharapkan menghasilkan nilai tambah dan daya saing tinggi.
Rosan menekankan bahwa setiap proyek hilirisasi harus mampu menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan. Hal ini mencakup integrasi rantai pasok, tenaga kerja terampil, dan pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal.
Pemerintah menekankan pentingnya percepatan proyek untuk mendukung agenda industrialisasi nasional. Langkah ini menjadi kunci memperkuat ketahanan ekonomi melalui pengembangan hilirisasi komoditas strategis.
Dampak Proyek terhadap Ekonomi dan Lapangan Kerja
Peletakan batu pertama enam proyek hilirisasi diproyeksikan membuka ribuan lapangan kerja baru. Selain tenaga kerja langsung, sektor pendukung seperti logistik, transportasi, dan manufaktur juga akan mendapat manfaat signifikan.
Investasi senilai Rp100 triliun ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi regional dan nasional. Sektor energi, mineral, dan pangan strategis menjadi pilar utama yang akan menopang stabilitas ekonomi jangka panjang.
Proyek bioavtur dan bioetanol turut mendukung agenda energi hijau dan keberlanjutan. Hal ini sejalan dengan target pemerintah untuk menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Pengembangan industri aluminium dari bauksit bertujuan memperkuat penguasaan rantai nilai dari hulu hingga hilir. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga produk bernilai tambah tinggi.
Di sektor pangan, budidaya unggas menjadi proyek strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional. Produksi domestik yang lebih besar akan mengurangi impor sekaligus memperkuat suplai protein lokal.
Danantara memastikan setiap proyek diawasi secara ketat untuk menjaga kualitas dan timeline pembangunan. Groundbreaking yang direncanakan pada Februari 2026 menjadi momentum penting untuk memulai produksi komersial.
Langkah strategis ini juga menunjukkan komitmen pemerintah dan Danantara untuk mendorong hilirisasi sebagai pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Proyek-proyek ini menjadi simbol investasi besar yang dapat menggerakkan berbagai sektor industri.
Rosan menegaskan bahwa setiap proyek akan menekankan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, investor, dan mitra industri harus bekerja sama untuk memastikan hasil optimal bagi perekonomian dan masyarakat.
Dengan percepatan proyek hilirisasi, Indonesia diharapkan mampu menempatkan diri sebagai pemain utama di kawasan untuk sektor energi, mineral, dan pangan. Strategi ini juga menjadi fondasi pengembangan industri berkelanjutan jangka panjang.
Groundbreaking proyek hilirisasi Danantara menjadi tonggak penting bagi industri nasional. Dengan nilai investasi Rp100 triliun dan enam proyek strategis, momentum ini diharapkan meningkatkan daya saing dan kemandirian ekonomi Indonesia.